• Imagen 1 AKU DAN KENANGAN ITU
    SENYUM INDAH YANG SANGAT KAMI RINDUKAN
  • Imagen 2 AKU BERSAMA MEREKA
    BERSAMA MEREKA ADA SEBUAH KEBAHAGIAN YANG TAK TERLUKISKAN DENGAN KATA-KATA
  • Imagen 3 PUT YOUR POST TITLE HERE
    PUT SOME DESCRIPTION OF YOUR POST HERE
  • Imagen 3 SEBUAH PERTEMANAN
    Pertemanan yang tak lekang di makan jaman akan selalu terlintas dalam guratan-guratan umurku, umurmu dan umur kita semua. Waktu memang akan terus belalu, tapi pertemanan ini tak boleh berlalu begitu saja tanpa rasa dan logika
  • Imagen 3 PUT YOUR POST TITLE HERE
    PUT SOME DESCRIPTION OF YOUR POST HERE

penantian panjang

On Minggu, 28 November 2010 0 komentar

Hanya sebuah crita pendek yang kubuat saat senggang dan iseng-iseng saja. terinspirasi dari sebuah crita temen yang ku kembangkan sendiri... ini dia critanya...    
                 Matahari telah keemasan sore itu. Awan biru mulai agak gelap. Namun tak menyurutkan keramaian lalu lalang yang terjadi di stasiun kota Bojonegoro. Seorang gadis termenung sendirian di pojok ruang tunggu. Pandangannya penuh harap pada arah datangnya kereta api seolah sedang menunggu kedatangan seseorang yang tlah lama tak bertemu. Dia hanya berdiam sambil sesekali melirik ke arah sana.
                Tatapannya mulai kosong, putus asa tepatnya, saat keramaian itu surut oleh gelap malam. “mungkin bukan hari ini” katanya dalm hati. “masih ada eok, mungkin penantianku selama ini akan terbayar besok!! Tapi… iya jika dia datang??” ujarnya. “ tidak..tidak… aku tak boleh menyerah, dia pasti datang memenuhi janjinya!” debatnya dengan dirinya sendiri.
                Dia meninggalkan tempatnya dengan langkah gontai. Memang sulit menerima semuanya. Dia teringat setahun lalu, saat satu-satunya orang yang dia cintai ingin pergi meninggalkannya untuk melanjutkan sekolah di sebuah kota. Dengan berat hati dia melepas demi masa depan orabg yang dia cintai itu. Di stasiun Bojonegoro inilah yang menjadi saksi biksu kepergian orang yang dikasihinya, sekalugu penantian panjang yang tak berujung selama ini.
                Sebulan telah berlalu dari dimana janjinya seharusnya ditepati. Namun, tak ada kabar apapun yang datang dari dia, apakah dia tidak akan pulang. Tapi… aku mengenalnya tidak seperti itu. Apakah dia lupa akan janjinya?? Aku pun tak tahu. Yang ku tahu dia telah berjanji padaku untuk pulang dan kembali ke sini demi aku tahun ini. Aku memang hanya seorang gadis desa yang biasa. Pasti disana banyak gadis-gadis lain yang lebih cantik dari pada aku. Mungkin dia telah melupakan aku. Semua pikiran negative berkecamuk dalam pikiranku. Aku termenung melihat embun-embun yang menetes pegi ini lewat jendela kamarku. Aku telah menyerah tuk menunggunya.
                Akhir-akhir ini banku pojok stasiun itu telah kosong dari penghuninya yang setia semenjak  seminggu yang lalu. Tak ada lagi gadis ayunan polos yang menatap arah datangnya kereta api dengan penuh harap. Tak ada lagi harapan yang tersisa. Yang tertinggal hanyalah kekecewaan dan putus asa.
                Siang itu, panas terik matahari seakan membakar bumi. Kereta api jurusan Surabaya-Bojonegoro tiba di stasiun Bojonegoro dengan decitan rem yang sangat keras. Penumpang berdesakan berebut untuk turun. Di tengah keramaian itu terlihat sesosok laki-laki turun dari kereta. Memakai seragam dinasnya dan membawa tas ransel berwarna hijau tua. Tubuhnya tinggi, tegap dengan potongan cepak. Tatapannya segera memburu pada seluruh penjuru stasiun. Dia terlihat sedang mencari seseorang. Lalu dia segera baerkeliling stasiun walaupun lelah dari perjalanan yang lumayan jauh. Peluh menetes di wajahnya, rautnya sedikit kecewa. Dia duduk termenung tak menghiraukan sekitarnya. “ ternyata dia tak menungguku disini. Mungkin dia telah melupakan janjiku dulu. Padahal ku berkorban demi dia untuk kembali lagi kesini. Padahal dia juga berjanji kan setia menungguku tuk menjemputku di sini. Padahal ku membawa kabar bahagia untuknya bahwa aku telah sukses dan ingin mengajaknya untuk ikut bersamaku.” Katanya putus asa.
                Tanpa banyak menghabiskan waktu, dia segera menuju loket tiket untuk membeli tiket kembali lagi ke Surabaya. Kekecewaan yang sangat sedang menyelimutinya. Tanpa sengaja dia menabrak seorang gaids yang membawa tas  besar.
“ maaf.. maaf.. saya terburu-buru” katanya.
Gadis itu tak segera menjawab. Dia masih ternganga dan tak percaya.
“ tian!!!” kata si gadis
“ dewi! Apa itu kamu?? “ jawab tian. ‘”aku tak menyangka kau menepati janjimu. Em… tapi.. buat apa tas sebesar itu??”  kata tian
“ sebenarnya aku ingin ke rumah nenek di bandung.
“ apa?? Cowok itu terkaget.
“ ya tapi ini karena ku kira kau takkan pernah kembali kesini”
“ tapikan aku sekarang disini dew, ini demi kamu. Apa kamu akan tetap pergi??” cemas tian.
“ya!!” jawab dewi mantap
“ kau serius?” tian mulai kecewa.
“ ya, aku kan pergi untuk ikut kamu balik ke Surabaya. Biar aku nggak sendirian lagi disini.” Jawabnya sambil tersenyum bahagia
                 Akhirnya di stasiun Bojonegoro inilah terukir sebuah memori baru tentang kamu dan aku. Dan kan menjadi saksi bisu cinta kita selamanya. Biarlah.. aku tak terlalu peduli lagi akan itu. Yang pasti semua itu kan tersimpan di sebagian hatiku. Dan saat ini aku telah menemukan ujung penantian ku. Ku temukan orang yang begitu ku cintai. Dan ku lanjutkan kisah ku ini bersamanya. Kisah ku dulu yang sempat tertunda karena jarak.
Kini.. semua itu tak perlu ku khawatirkan. Karna kini dia selalu ada disampingku. Menemaniku setiap saat. Dan menguatkan aku dengan senyumannya serta genggaman tangannya. Tak lupa juga cintanya.. ^_^
~HAPPY ENDING~
Read more ...»

resensi book

On 0 komentar

Judul: Soe Hok-Gie..Sekali Lagi
Penulis : Rudy Badil, dkk
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tebal : xxxix + 512 Halaman
Tahun : Desember 2009


Soe Hok Gie adalah ikon gerakan mahasiswa. Ia telah menjadi inspirasi bagi banyak aktivis kampus di era tahun 1980-an hingga 1990-an. Bahkan catatan hariannya yang dibukukan dalam Catatan Seorang Demonstran, menjadi semacam bacaan wajib bagi peminat ataupun simpatisan dunia pergerakan.

Dari buku tersebut dapat dilihat bagaimana Hok-Gie merespon realitas. Jejak kegelisahan, semangat, perenungan, sikap maupun idealismenya dapat dilihat dari buku tersebut. Buku tersebut seolah menjadi representasi dunia batin adik kandung budayawan Arief Budiman itu.
Namun, sisi human interest dari Hok-Gie memang sulit untuk dilacak. Rasanya belum ada literatur yang mengungkap sisi ini. Padahal hal ini boleh jadi sisi yang "misterius" dari Hok-Gie, sebut saja bagaimana cara ia bergaul dengan karib serta koleganya, bagaimana cara ia menangani permasalahan di lapangan, ataupun bagaimana hubungannya dengan beberapa teman dekat wanitanya.

Kehadiran buku Soe Hok-Gie…Sekali Lagi, tampaknya mulai membuka sisi lain dari Hok-Gie. Sosoknya perlahan mulai terungkap meskipun tidak bisa secara utuh mengurai kompelksitasnya.

Buku ini berisi sejumlah tulisan dari beberapa sahabat dekat, rekan pencinta alam yang tergabung dalam Mapala (Mahasiswa Pencinta Alam) Universitas Indonesia, budayawan, peneliti, sineas, maupun aktor. Dari tulisan-tulisan inilah dapat diketahui mozaik lain dari Hok-Gie.

Penulis pertama buku ini adalah Rudy Badil, salah seorang anggota Mapala UI yang ikut serta dalam pendakian ke Semeru pada pertengahan bulan Desember 1969. Di bagian awal inilah Rudy menceritakan apa yang dialaminya pada hari-hari saat-saat terakhir bersama Hok-Gie.
Tulisan ini diletakan di bagian awal karena memang kisah inilah yang paling tragis dari Hok-Gie. Di bagian ini dikisahkan saat-saat terakhir Rudy Badil bersama Hok-Gie. Dikisahkan bagaimana ia sempat melihat Hok-Gie yang masih bertahan di puncak Semeru sementara pendaki lain sudah turun karena cuaca saat itu dianggap mulai tidak bersahabat.

Namun tidak lama setelah itu Rudy Badil diberitahu oleh pendaki lain bahwa Hok-Gie dan Idhan Lubis mengalami kecelakaan. Belakangan diketahui kematiannya itu disebabkan oleh gas beracun yang keluar dari kawah Semeru, gunung berapi yang masih aktif.

Dikisahkan pula bagaimana sulitnya proses evakuasi kedua jenazah tersebut. Hal ini disebabkan sulitnya menjangkau lokasi karena medan yang cukup berat. Namun, dengan bantuan penduduk setempat, kedua jenazah dapat diturunkan.

Dari sejumlah tulisan lain dalam buku ini, terungkap pula bahwa Hok-Gie adalah sosok idealis yang seakan tidak pernah takut kepada siapa pun selama ia yakin dengan sikapnya. Bahkan ia siap berhadapan dengan penguasa jika memang penguasa tersebut berbuat sesuatu yang dianggapnya mencederai rasa keadilan.

Tidak heran jika kritik mapun protes keras acap kali ia sampaikan kepada penguasa, terutama lewat tulisan-tulisannya di berbagai media massa. Hasilnya, Hok-Gie memang dianggap orang yang berseberangan dengan penguasa. Termasuk ketika Hok-Gie terang-terangan melawan Presiden Soekarno yang dianggap memberi ruang terlalu berlebihan untuk Partai Komunis Indonesia (PKI).

Menariknya, meskipun Hok-Gie adalah seorang anti-komunis--ditandai dengan dengan terjun langsungnya ia ke arena perlawanan terhadap komunisme--tetapi dia tetap protes ketika terjadi pembantaian massal terhadap orang-orang yang dianggap memiliki hubungan dengan PKI tanpa melalui proses di pengadilan.

Stanley Adi Prasetyo, Komisioner Komnas HAM Republik Indonesia yang menyumbangkan tulisan dalam buku ini, mengutip tulisan Hok-Gie untuk memperlihatkan sikap Hok-Gie, terhadap masalah pembantaian tersebut. Hok-Gie dalam dalam majalah Mahasiswa Indonesia edisi Jawa Barat menulis, ketika pembunuhan dilangsungkan, para tawanan sering minta untuk segera dibunuh saja. Alasannya, mereka telah mengetahui bagaimana hidup mereka akan berakhir. Hal itu dilakukan karena mereka takut menghadapi siksaan atau cara pembunuhan mengerikan yang dilakukan oleh manusia yang menyebut dirinya ber-Tuhan (Hal. 349).
Hok-Gie memang sinis dengan ketidakadilan maupun kemunafikan. Ia tidak segan melakukan serangan terhadap realitas seperti itu. Untuk soal ini sikapnya hanya hitam-putih, tidak ada wilayah abu-abu. Dalam pandangannya, setiap kekeliruan harus diluruskan, meskipun itu dilakukan seorang pejabat yang memiliki otoritas.

Keiritisan Hok-Gie ternyata bersifat mengakar, hingga menyentuh persoalan agama. Dalam hal ini Hok-Gie tidak main mutlak-mutlakan. Ia yang mengaku mengalami "krisis kepercayan", menolak pendapat dari otoritas pemuka agama yang menyatakan bahwa agama yang mereka anut adalah satu-satunya agama yang akan mengantarkan manusia ke surga. Bagi Hok-Gie gagasan ini terlalu berlebihan. Baginya agama haruslah membawa pembebasan, dan bukan menjadi alat masyarakat untuk mencapai kepentingan tertentu.

Di balik itu semua ada sisi menarik lain dari Hok-Gie. Meskipun selalu berikap kritis dan tegas terhadap apa yang dilihatnya, toh tetap saja Hok-Gie adalah anak muda dengan dinamikanya sendiri, entah itu dalam pergaulan, komunitas hobi, kampus, sampai perempuan.
Dalam pergaulan misalnya Hok-Gie dikenal akrab dan terbuka dengan sejumlah kawan. Pembicaraan mereka pun sangat khas anak muda, termasuk subjek atau pembicaraan yang dianggap "menyerempet bawah perut"--begitu istilah Kartini Syahrir dalam buku ini.
Sisi lain kemanusiaan Hok-Gie yang ingin diungkap dalam buku inilah adalah kesepian yang dialaminya. Di tengah kegiatannya yang nyaris seakan tidak ada jeda, mulai dari menggalang massa mahasiswa turun ke jalanan, hingga naik gunung bersama pecinta alam lainnya, Hok-Gie adalah potret manusia yang dilanda sepi. Keironisan itulah yang ditangkap oleh Aris Santoso dalam buku ini. Inilah kesepian yang harus diterima Hok-Gie sebagai konsekuensi dari pilihan idealisme, keteguhan hati, dan kesetiaan kepada kebenaran.

Jelaslah, buku ini bukan sebuah usaha untuk mengultuskan sosok Hok-Gie. Sebaliknya buku ini mencoba untuk memperlihatkan sosok Hok-Gie apa adanya, dari sudut pandang orang-orang yang mengagumi dan mencintainya.

Buku ini sebenarnya dapat lebih kaya jika surat-surat pribadi Hok-Gie hasil korespondensinya dengan sejumlah orang dapat dimuat. Bukankah ia disebut-sebut berkorespondesi dengan Ben Anderson, Daniel S Lev, David R Looker, Syharir, sampai Onghokham. Tentu saja hal ini perlu usaha yang lebih rumit untuk mengumpulkan kembali surat-surat yang dimaksud.

Namun demikian, kehadiran Soe Hok-Gie...Sekali Lagi sedikitnya dapat memberikan sebuah penggalan lain kisah seorang Hok-Gie. Kita pun diingatkan kembali bukan hanya kepada keberaniannya, tetapi juga persoalan bangsa Indonesia yang membutuhkan politisi serta pemimpin yang peduli, peka dan siap bekerja untuk kemajuan bangsanya tanpa pamrih.
Read more ...»

~CATATAN MASA PUTIH ABU-ABUKU~

On Selasa, 09 November 2010 2 komentar

           SMAN 2 BOJONEGORO, adalah sekolah tujuanku saat aku telah lulus dari jenjang SMP. Kenapa??? Karena memang aku tertarik dengan sekolah yang terkenal MULTI TALENT  ini. Prestasi yang membanggakan, juga beberapa aspek lain yang mambuatku jatuh cinta pada pandangan pertama pada sekolahku kini.Kesan awal ku melihat SMAN 2 BOJONEGORO yaitu adalah sebuah sekolah yang lain dari yang lain di kota Bojonegoro ini. Lingkungan yang rindang dan sejuk, serta luas yang menampakkan suatu tempat yang sangat pas untuk tempatku menimba ilmu. Selain itu, aku berpikir ini adalah tempat yang nyaman, karena tak terlalu dekat dengan hiruk pikuk kota yang akan mangganggu konsentrasi pada nantinya.Akupun mulai mengumpulkan informasi-informasi tentang SMAdaBO ini. Dan akhirnya pendaftaranpun dibuka. Aku tak ingat pasti pada hari keberapa aku ikut pendaftaran ini. Tapi seingatku aku mendaftarkan diri sebagai calon siswa SMAdaBO adalah pada hari pertama. Ternyata pagi-pagi aku datang, ratusan orang telah memenuhi area pendaftaran. Memang banyak sekali peminatnya!!!  Ini membuatku sedikit minder, dan berpikiran segini banyaknya pesaingku.. apakah aku bisa memakai seragam putih abu-abuku di sekolah ini??namun aku tetap optimis untuk bisa masuk di sekolah favoritku ini. Hem..kalau berbicara tentang orang yangkukenal saat MOS.. aku pertama kenalan sama temenku yang memang dari satu daerah tapi tak kukenal. Tapi aku punya satu kenangan tentang seseorang yang selalu ku lihat dimanapun aku berada saat pendaftaran. Dan hingga beberapa hari setelah aku masuk sekolah ini. Ini membuatku sedikit penasaran, namun hanya sedikit, siapa dia sebenarnya. Hingga suatu saat kita berkenalan saat kita sama-sama jadi pengurus Osis. Dan semenjak itu kita sekarang berteman dengan baik.

            Setelah melewati beberapa perjuangan, akhirnya  aku masuk di SMAN 2 Bojonegoro. Sangat senang sekali, apalagi dengan peringkat yang lumayan. Lega rasanya aku masuk.  Hingga tiba saatnya hari pertama aku masuk sekolah. Mengenakan seragam putih hitam, berkuncir pita biru sebanyak Sembilan, bertas kardus dengan sandal bergantungan di belakangnya, hingga berkalung bungus permen relaxa ungu. Semua itu adalah atribut MOS ku yang diberikan oleh kakak-kakak senior. Hhuft, setelah bersusah payah hingga meributkan sekeluargaku, akhirnya semua atribut ini dapat kupakai dengan lengkap tanpa ada yang kurang. Banyak kegiatan yang telah disiapkan untuk menggembleng kita sebagai siswa baru di sini. Namun tiga hal yang sangat melekat pada benakku hingga saat ini. Yaitu keamanan, susuahnya cari tanda tangan senior, dan ikut pemilihan raja dan ratu MOS. Yah kenapa itu? Akan kujelaskan satu persatu. Hari pertama, kami belum tahu, apa itu keamanan, ternyata kami terkejut bahwa ada kakak-kakak yang bisa dibilang “seram” memasuki kelas kami satu persatu dan mengecek apa yang telah ditentukan serta memarahi hingga membentak-bentak kami. Kamipun hanya bisa tertunduk takut dengan semua itu. Semua tak ada yang benar di mata mereka. Selalu ada seja yang kurang. Hingga tak seorangpun luput dari itu. Berlanjut pada pencarian tanda tangan senior yang dipersulit. Apa lagi saat itu ketos ku Kak Febrian menyamar menjadi siswa biasa yang tak menampilkan sosok seorang ketos sama sekali.  Hari pertama memang hari dimana aku dituntut untuk beradaptasi dengan sekitar secara cepat. Teman-teman baru, lingkungan baru, pengalaman baru, dan semua yang serba baru. Hari pertamaku ku akhiri dengan telah berakhirnya tes tulis dari calon raja ratu MOS perwakilan tiap kelas yang dipilih dari pemilik NEM tertinggi dengan kandidat masing-masing satu Pa Pi. Menginjak hari yang kedua, ku lewati dengan lebih siap mental. Mulai dari lolos keamanan gara-gara ikut tes wawancara ratu MOS. Yah. Disitu kita di uji dengan pertanyaan-pertanyaan seputar diri kita hingga masalah social. Di sinilah aku mulai mengenal karakter sebenarnya, dan lebih mengenal kakak-kakak. Tak tanggung-tanggung aku bersama seorang teman ku berani masuk ke markas mereka di ruang osis hanya untuk sekedar meminta tanda tangan seorang ketua osis. Hari ketiga kulalui dengan lebih santai, karena hari ini hari terakhir. Semua itu ditutup dengan serangkaian pensi. Banyak hal yang tak terlupa dari semua itu. Dan akan menjadi sebuah kenangan tersendiri di hari pertama aku masuk SMA yang sangat berbeda dengan saat SMP dulu. Hingga akhirnya setelah melewati semua itu, aku resmi mengenakan seragam putih abu-abuku di kelas X5 yang kini menjadi saksi bisu setahunku disana bersama teman sebangkuku yezzi dan juga teman-temanku lain, ada riftika, eisko, firdaus, ida, dll.

              Kini semua itu telah berlalu. Kita di pisahkan oleh suatu penjurusan. Sekarang aku berada di kelas XI IA 4 yang kompak banget. asik dech pokoknya.. temen-temenku soul society takkan terlupakan masa indah bersama kalian. Bwt temen-temen prapatan, 2 tahun kedepan kita kan selalu bersama, semoga kita makin kompak aja…. Okey… !!!! ^_^


Read more ...»